KATA PENGANTAR
Puji
syukur kehadirat tuhan yang maha kuasa berkat limpahan dan rahmat-Nya penulis
mampu menyelesaikan tugas. Makalah ini diajukan untuk memenuhi tugas mata
kuliah belajar dan pembelajaran.
Pada
kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada semua
pihak yang telah membantu kami menulis makalah ini, kepada Yth:
1. Ibu
Putri Yulia, M.pd selaku dosen mata kuliah
2. Rekan
– rekan satu kelompok yang sudah saling bekerja sama dalam penulisan makalah
ini
3. Rekan
– rekan prodi matematika kelas B
4. Orang
tua kami yang telah memberikan baik moril maupun materi
Kami
menyadari makalah ini masih banyak kekurangan dan jauh dari kesempurnaan, oleh
karena itu kami mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun , dari
rekan rekan pembaca dan khususnya dari dosen mata kuliah guna menjadi acuan
dalam hal bekal pengalaman bagi kami untuk lebih baik di masa yang akan datang.
Batam,
24 Desember 2015
Penulis
DAFTAR ISI
Hal
KATA PENGANTAR ……………………………………………………………. 1
DAFTAR ISI ……………………………………………………………………………. 2
BAB I PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang ……………………………………………………………. 3
B.
Rumusan Masalah ……………………………………………………………. 4
C.
Tujuan Penulisan ……………………………………………………………. 4
BAB II PEMBAHASAN
A.
Pengertian Kondisi Belajar …………………………………………………… 5
B. Kondisi
Belajar Untuk Berbagai Jenis Belajar …………………………… 6
C. Masalah
– masalah Belajar Internal dan Eksternal …………………………… 7
D. Cara Mendiagnosa Masalah Belajar dan
Mengatasinya …………………… 21
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan …………………………………………………………………… 24
B. Saran …………………………………………………………………………… 25
DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………………………... 26
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Tugas utama seorang guru adalah
membelajarkan siswa. Belajar berarti bila bahwa guru bertindak mengajar, maka
diharapkan siswa berajar atau belajar. Dalam kegiatan belajar-mengajar di
sekolah ditemukan hal-hal berikut. Guru telah mengajar dengan baik. Ada siswa
yang giat. Ada siswa yang pura-pura belajar. Ada siswa yang belajar setengah hati.
Bahkan ada pula siswa yang tidak belajar. Guru bingung menghadapi keadaan
siswa. Guru tersebut berkonsultasi dengan guru konselor sekolah. Kedua petugas
pendidik tersebut menemukan adanya masalah-masalah yang dialami siswa. Ada
masalah yang dapat diselesaikan oleh konselor sekolah. Adapula yang
dkonsultasikan dengan ahli psikologi. Guru menyadari bahwa dalam tugas
pembelajaran ternyata masalah-masalah belajar dialami siswa. Bahkan guru harus
memahami bahawa kondisi lingkungan siswa juga dapat menjadi sumber timbulnya
masalah-masalah belajar.
Guru professional berusaha mendorong
siswa agar belajar secara berhasil. Ia menemukan bahwa ada bermacam hal yang
menyebabkan siswa belajar.ada siswa yang tidak belajar karena dimarahi oleh
orang tua. Ada siswa yang enggan belajar karena pindah tempat tinggal. Ada
siswa yang sukar memusatkan perhatian waktu guru mengajarkan topic tertentu.
Ada pula siswa yang giat belajar karena bercita-cita menjadi seorang ahli.
Bermacam-macam keadaan siswa tersebut menggambarkan bahwa pengetahuan tentang
masalah-masalah belajar merupakan hal yang sangat penting bagi guru atau calon
guru.
Masalah
adalah ketidaksesuaian antara harapan dengan kenyataan, ada yang melihat
sebagai tidak terpenuhinya kebutuhan seseorang, dan adapula yang mengartikannya
sebagai suatu hal yang tidak mengenakkan. Prayitno (1985) mengemukakan bahwa
masalah adalah sesuatu yang tidak disukai adanya, menimbulkan kesulitan bagi
diri sendiri dan atau orang lain, ingin atau perlu dihilangkan. Pengertian
belajar dapat didefinisikan sebagai sesuatu proses yang dilakukan individu
untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan,
sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan
lingkungannya. Belajar adalah proses perubahan pengetahuan atau perilaku
sebagai hasil dari pengalaman. Pengalaman ini terjadi melalui interaksi antara
individu dengan lingkungannya. ( Anita E, Wool Folk, 1995 : 196 ).
Menurut
Garry dan Kingsley, belajar adalah proses tingkah laku (dalam arti luas), ditimbulkan
atau diubah melalui praktek dan latihan. Sedangkan menurut Gagne (1984: 77),
belajar adalah suatu proses dimana suatu organisasi berubah perilakunya sebagai
akibat pengalaman. Dari definisi masalah dan belajar maka masalah belajar dapat
diartikan atau didefinisikan sebagai suatu kondisi tertentu yang dialami
oleh murid dan menghambat kelancaran proses yang dilakukan individu untuk
memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan.
Kondisi
tertentu itu dapat berkenaan dengan keadaan dirinya yaitu berupa
kelemahan-kelemahan dan dapat juga berkenaan dengan lingkungan yang tidak
menguntungkan bagi dirinya. Masalah-masalah belajar ini tidak hanya dialami
oleh murid-murid yang lambat saja dalam belajarnya, tetapi juga dapat menimpa murid-murid
yang pandai atau cerdas. Dalam interaksi belajar mengajar siswa merupakan kunci
utama keberhasilan belajar selama proses belajar yang dilakukan. Proses belajar
merupakan aktivitas psikis berkenaan dengan bahan belajar.
B.
Rumusan Masalah
a) Apa pengertian dari kondisi belajar
b) Apa saja masalah – masalah dalam
belajar baik internal maupun eksternal
c) Bagaimana cara mendiagnosa dan
mengatasi masalah belajar
C.
Tujuan Penulisan
Adapun
tujuan dari penulisan makalah tentang teori belajar dan pembelajaran ini adalah
sebagai berikut :
a)
Menambah wawasan dan pengetahuan kita
tentang kondisi dan masalah belajar.
b)
Menambah wawasan dan pengetahuan kita
bagaimana mendiagnosa masalah belajar dan mengatasinya.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Kondisi Belajar
Kondisi belajar adalah suatu keadaan
yang dapat mempengaruhi proses dan hasil belajar. Definisi lain tentang kondisi
belajar adalah suatu yang mana terjadi aktifitas pengetahuan dan pengalaman
melalui berbagai proses pengolahan mental. Sedangkan menurut Gagne dalam
bukunya “Condition of learning” (1977) menyatakan “The occurence of learningis
inferred from a difference in human being’s performance before and after being
placed in a learning situation”.
Terjadinya belajar pada manusia
terdapat perbedaan dalam penampilan/ kinerja manusia sebelum dan sesudah ia
ditempatkan pada situasi belajar. Dengan kata lain ia menyatakan bahwa kondisi
belajar adalah suatu situasi belajar (learning situation) yang dapat
menghasilkan perubahan perilaku (performance) pada seseorang setelah ia
ditempatkan pada situasi tersebut.
Gagne membagi kondisi belajar atas dua, yaitu:
1. Kondisi internal (internal
condition) adalah kemampuan yang telah ada pada diri individu sebelum ia
mempelajari sesuatu yang baru yang dihasilkan oleh seperangkat proses
transformasi (ingat information processing theory Gagne).
- Kondisi
Eksternal (eksternal condition) adalah situasi perangsang di luar diri si
belajar. Kondisi belajar yang diperlukan untuk belajar berbeda-beda untuk
setiap kasus. Begitu pula dengan jenis kemampuan belajar yang berbeda akan
membutuhkan kemampuan belajar sebelumnya yang berbeda dan kondisi
eksternal yang berbeda pula.
B.
Kondisi
Belajar Untuk Berbagai Jenis Belajar
Gagne (dalam Richey, 2000) menyatakan bahwa dibutuhkan
belajar yang efektif untuk berbagai jenis/ kategori kemampuan belajar. Kondisi
belajar dibagi atas lima kategori belajar sebagai berikut:
1. Keterampilan intelektual (Intellectual Skill): untuk
jenis belajar ini, kondisi belajar yang dibutuhkan adalah pengambilan kembali
keterampilan keterampilan bawahan (yang sebelumnya), pembimbing dengan
kata-kata atau alat lainnya, pendemonstrasian penerapan oleh siswa dengan
diberikan balikan, pemberian review.
2. Informasi verbal (Verbal Information): untuk jenis
belajar ini, kondisi belajar yang dibutuhkan adalah pengambilan kembali konteks
dari informasi yang bermakna, kinerja (performance) dari pengetahuan baru yang
konstruktsi, balikan
3. Stategi kognitif (Cognitive Strategy/problem solving):
untuk jenis belajar ini, kondisi belajar yang dibutuhkan adalah pengambilan
kembali aturan-aturan dan konsep-konsep yang relevan, penyajian situasi masalah
baru yang berhasil, pendemonstrasian solusi oleh siswa.
4. Sikap (Attitude): untuk jenis belajar ini, kondisi
belajar yang dibutuhkan adalah pengambilan kembali informasi dan keterampilan
intelektual yang relevan dengan tindakan pribadi yang diharapkan. Pembentukan
atau pengingatan kembali model manusia yang dihormati, penguatan tindakan
pribadi dengan pengalaman langsung yang berhasil maupun yang dialami oleh orang
lain dengan mengamati orang yang dihormati.
5. Keterampilan motorik (Motor Skill): untuk jenis belajar
ini, kondisi belajar yang dibutuhkan adalah pengambilan kembali rangkaian unsur
motorik, pembentukan atau pengingatan kembali kebiasaan-kebiasaan yang
dilaksanakan, pelatiahn keterampilan-keterampilan keseluruahn, balikan yang
tepat.
C.
Masalah
– masalah Belajar Internal dan Eksternal
Masalah belajar adalah suatu kondisi
tertentu yang dialami oleh siswa dan menghambat kelancaran proses belajar, bisa
berkenaan dengan keadaan diri siswa itu sendiri ataupun berkenaan dengan
lingkungan yang tidak menguntungkan. Hal ini merupakan pertanda bahwa belajar
merupakan kegiatan yang dinamis, sehingga perlu secara terus menerus mencermati
perubahan-perubahan yang terjadi pada siswa.
Secara umum kondisi belajar internal
dan eksternal akan mempengaruhi belajar. Kondisi itu antara lain, pertama,
lingkungan fisik. Lingkungan fisik yang ada dalam proses dan di sekitar proses
pembelajaran memberi pengaruh bagi proses belajar. Kedua, suasana emosional
siswa. Suasana emosional siswa akan memberi pengaruh dalam proses pembelajaran
siswa. Hal ini bisa dicermati ketika kondisi emosional siswa sedang labil maka
proses belajarpun akan mengalami gangguan. Ketiga, lingkungan sosial.
Lingkungan sosial yang berada di sekitar siswa juga turut mempengaruhi
bagaimana seorang siswa belajar.
Di bawah ini adalah masalah-masalah
belajar yang bersifat internal dan masalah-masalah yang bersifat eksternal:
1.
Masalah
belajar internal adalah masalah yang timbul dari dalam diri siswa atau
faktor-faktor internal yang ditimbulkan ketidak beresan siswa dalam belajar.
Faktor internal berasal dari dalam diri anak itu sendiri, seperti:
a)
Sikap
Terhadap Belajar
Selama
melakukan proses pembelajaran sikap siswa akan menentukan hasil dari
pembelajaran tersebut. Pemahaman siswa yang salah terhadap belajar akan membawa
kepada sikap yang salah dalam melakukan pembelajaran. Sikap siswa ini akan
mempengaruhinya terhadap tindakan belajar. Sikap yang salah akan membawa siswa
mersa tidak peduli dengan belajar lagi. Akibatnya tidak akan terjadi proses
belajar yang kondusif.
b)
Motivasi
Belajar
Motivasi
belajar merupakan kekuatan mental yang mendorong terjadinya proses belajar.
Lemahnya motivasi atau tiadanya motivasi belajar akan melemahkan kegiatan
belajar. Selanjutnya mutu belajar akan menjadi rendah. Oleh karena itu motivasi
belajar pada diri siswa perlu diperkuat terus menerus.
c) Konsentrasi Belajar
Konsentrasi belajar merupakan
kemampuan memusatkan perhatian pada pelajaran. Pemusatan perhatian tersebut
tertuju pada isi bahan belajar maupun proses memperolehnya. Untuk memperkuat
perhatian guru perlu melakukan berbagai strategi belajar mengajar dan
memperhatikan waktu belajar serta selingan istirahat. Menurut seorang ilmuan
ahli psikologis kekuatan belajar seseorang setelah tiga puluh menit telah
mengalami penurunan. Ia menyarankan agar guru melakukan istirahat selama
beberapa menit. Dengan memberikan selingan istirahat, maka perhatian dan
prestasi belajar dapat ditingkatkan.
d) Mengolah Bahan Belajar
Mengolah bahan belajar merupakan
kemampuan siswa untuk menrima isi dan cara pemerolehan ajaran sehingga menjadi
bermakna bagi siswa. Isi bahan belajar merupakan nilai nilai dari suatu ilmu
pengetahuan, nilai agama, nilai kesusilaan, serta nilai kesenian. Kemampuan
siswa dalam mengolah bahan pelajaran menjadi makin baik jika siswa berperan
aktif selama proses belajar.
e)
Kemampuan
Berprestasi
Kemampuan
berprestasi atau unjuk hasil belajar merupakan puncak suatu proses belajar.
Pada tahap ini siswa membuktikan hasil belajar yang telah lama ia lakukan.
Siswa menunjukan bahwa ia telah mampu memecahkan tugas-tugas belajar atau
menstransfer hasil belajar. Dari pengalaman sehari-hari di sekolah diketahui
bahwa ada sebagian siswa tidak mampu berprestasi dengan baik. Kemampuan
berprestasi tersebut terpengaruh pada proses-proses penerimaan, pengaktifan,
pra-pengolahan, pengolahan, penyimpanan, serta pemanggilan untuk pembangkitan
pesan dan pengalaman.
f)
Rasa
Percaya Diri Siswa
Rasa
percaya diri timbul dari keinginan mewujudkan diri bertindak dan berhasil. Dari
segi perkembangan, rasa percaya diri dapat timbul berkat adanya pengakuan dari
lingkungan. Dalam proses belajar diketahui bahwa unjuk prestasi merupakan tahap
pembuktian perwujudan diri yang diakui oleh guru dan rekan sejawat siswa.
Semakin sering siswa mampu menyelesaikan tugasnya dengan baik maka rasa percaya
dirinya akan meningkat. Dan apabila sebaliknya yang terjadi maka siswa akan
merasa lemah percaya dirinya.
g)
Intelegensi
Dan Keberhasilan Belajar
Intelegensi
merupakan suatu kecakapan global atau rangkuman kecakapan untuk dapat bertindak
secara terarah, berpikir secara baik dan bergaul dengan lingkungan secara
efisien. Kecakapan tersebut menjadi actual bila siswa memecahkan masalah dalam
belajar atau kehidupan sehari-hari. Dengan perolehan hasil belajar yang rendah,
yang disebabkan oleh intelegensi yang rendah atau kurangnya kesungguhan
belajar, berarti terbentuknya tenaga kerja yang bermutu rendah. Hal ini akan
merugikan calon tenaga kerja itu sendiri. Oleh karena itu pada tempatnya mereka
didorong untuk melakukan belajar dibidang keterampilan.
h)
Kebiasaan
Belajar
Kebiasaan-kebiasaan
belajar siswa akan mempengaruhi kemampunanya dalam berlatih dan menguasai
materi yang telah disampaikan oleh guru. Kebiasaan buruk tersebut dapat berupa
belajar pada akhir semester, belajar tidak teratur, menyia-nyiakan kesempatan
belajar, bersekolah hanya untuk bergengsi, datang terlambat bergaya pemimpin,
bergaya jantan seperti merokok. Kebiasaan-kebiasaan buruk tersebut dapat
ditemukan di sekolah-sekolah pelosok, kota besar, kota kecil. Untuk sebagian
kebiasaan tersebut dikarenakan oleh ketidakmengertian siswa dengan arti belajar
bagi diri sendiri.
i)
Cita-Cita
Siswa
Cita-cita
sebagai motivasi intrinsic perlu didikan. Didikan memiliki cita-cita harus
ditanamkan sejak mulai kecil. Cita-cita merupakan harapan besar bagi siswa
sehingga siswa selalu termotivasi untuk belajar dengan serius demi menggapai
cita-cita tersebut. Dengan mengaitkan pemilikan cita-cita dengan kemampuan
berprestasi maka siswa diharapkan berani bereksplorasi sesuai dengan
kemampuannya sendiri.
Contoh dari masalah belajar internal
dapat dilihat dari kasus berikut:
Ita gadis
cilik berusia 9 tahun. Akhir-akhir ini prestasinya sangat menurun. Hasil
ulangannya selalu buruk kalau soal-soal ulangan ditulis di papan tulis. Namun
ketika ujian sumatif, hasil ulangan Ita tidak begitu buruk. Soal-soal ulangan
dicetak dan dibagikan kepada setiap murid. Namun demikian, peringkat Ita di
kelas turun drastis, dari peringkat 5 menjadi peringkat 20. Dari kasus di atas
dapat dilihat, masalah yang ditekankan adalah kemampuan indera untuk menangkap
rangsangan. Ita tampaknya mempunyai kesulitan dalam penglihatan. Ini terbukti
dari berbedanya hasil yang dicapai antara ulangan harian yang soalnya ditulis
di papan tulis dengan ulangan sumatif yang soalnya dicetak dan dibagikan kepada
setiap murid.
Dengan
pemahaman di atas maka dapat dikemukakan bahwa masalah-masalah belajar internal
dapat bersifat : Fisiologis dan Psikologis.
1. Faktor Fisiologis.
Faktor
Fisiologis adalah suatu kondisi yang berhubungan dengan keadaan jasmani
seseorang, misalnya tentang fungsi organ-organ, dan susunan-susunan tubuh yang
dapat mempengaruhi semangat dan intensitas siswa dalam mengikuti pelajaran.
Faktor Fisiologis yang dapat mempengaruhi belajar siswa dapat dibedakan menjadi
dua macam, yaitu:
Tonus (kondisi) badan
Kondisi
jasmani pada umumnya dapat dikatakan melatarbelakangi kegiatan belajar. Keadaan
jasmani yang optimal akan berbeda sekali hasil belajarnya bila dibandingkan
dengan keadaan jasmani yang lemah. Sehubungan dengan keadaan atau kondisi
jasmani tersebut, maka ada dua hal yang perlu diperhatikan, yaitu:
a. Cukupnya
nutrisi (nilai makanan dan gizi), yaitu:
Tubuh
yang kekurangan gizi makanan, akan mengakibatkan merosotnya kondisi jasmani.
Sehingga, menyebabkan seseorang belajarnya menjadi cepat lesu, mengantuk, dan
tidak ada semangat untuk belajar. Pada akhirnya siswa tidak dapat mencapai
hasil belajar yang diharapkan.
Beberapa
penyakit ringan yang diderita dapat berupa pilek, sakit gigi, batuk, dan lain
sejenisnya. Semua itu tentu akan mempengaruhi hasil belajar siswa.
b. Keadaan
fungsi-fungsi fisiologis tertentu
Keadaan
fungsi-fungsi fisiologis tertentu yang dapat mempegaruhi kegiatan belajar di
sini adalah fungsi-fungsi panca indera. Panca indera yang memegang peranan
penting dalam belajar adalah mata dan telinga. Apabila mekanisme mata dan
telinga kurang berfungsi, maka tanggapan yang disampaikan dari guru, tidak
mungkin dapat diterima oleh anak didik. Jadi, siswa tidak dapat menerima dan
memahami bahan-bahan pelajaran, baik yang langsung disampaikan oleh guru,
maupun melalui buku bacaan.
2. Faktor Psikologis
Faktor
Psikologis adalah suatu kondisi yang berhubungan dengan keadaan kejiwaan siswa.
Faktor Psikologis dapat dibedakan menjadi:
a. Bakat
Bakat
adalah kemampuan potensial yang dimiliki anak untuk mencapai keberhasilan.
Bakat anak akan dimulai tampak sejak ia dapat berbicara atau sudah masuk
Sekolah Dasar (SD). Bakat yang dimiliki setiap anak tidaklah sama. Bakat akan
dapat mempengaruhi tinggi rendahnya prestasi belajar anak dalam bidang-bidang
studi tertentu. Jadi, merupakan hal yang tidak bijaksana apabila orang tua
memaksakan kehendaknya untuk menyekolahkan anaknya pada jurusan atau keahlian
tertentu tanpa mengetahui terlebih dahulu bakat yang dimiliki anaknya. Dengan
tidak adanya fektor penunjang dan usaha untuk mengembangkannya, maka bakat
tersebut lama kelamaan akan punah. Untuk itu agar kegiatan belajar berhasil
dengan didasari bakat tersebut maka harus adanya faktor penunjang. Di
antaranya, fasilitas untuk sarana, pembiayaan, dan dorongan moral dari orang
tua serta minat yang dimiliki.
b. Minat
Minat
adalah kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar untuk
sesuatu. Dalam minat, ada dua hal yang harus diperhatikan:
1) Minat Pembawaan
Minat
ini muncul dengan tidak dipengaruhi oleh faktor-faktor lain, baik kebutuhan
maupun lingkungan.
2) Minat yang muncul karena adanya
pengaruh dari luar
Minat
seseorang bisa saja berubah karena adanya pengaruh lingkunga dan kebutuhan.
Spesialisasi bidang studi9 yang tidak sesuai dengan minatnya, tidak mempunyai
daya tarik baginya.
c. Intelegensi
Intelegensi
adalah kemampuan psiko-fisik untuk mereaksi rangsangan atau menyesuaikan diri
dengan lingkungan dengan cara yang tepat. Kemampuan dasar yang tinggi pada
anak, memungkinkan anak untuk dapat menggunakan pikirannya untuk belajar dan
memecahkan mpersoalan-persoalan baru secara tepat, cepat, dan berhasil.
Sebaliknya, jika tingkat kemampuan dasar anak rendah maka dapat mengakibatkan
ank mengalami kesulitan dalam belajar.
d. Motivasi
Motivasi
adalah keadaan internal manusia yang mendorong manusia untuk berbuat sesuatu.
Fungsi motivasi adalah mendorong sesorang untuk interes pada kegitan yang akan
dikerjakan, menentukan arah perbuatan, yakni ke arah tujuan yang hendak
dicapai, dan mendorong seseorang untuk pencapaian prestasi, yakni dengan adanya
motovasi yang baik dalam belajar, akan menunjukkan hasil belajar yang baik
pula.
2.
Masalah
belajar eksternal adalah masalah-masalah yang timbul dari luar diri siswa
sendiri atau faktor-faktor eksternal yang menyebabkan ketidak beresan siswa
dalam belajar. Faktor eksternal adalah faktor yang datang dari luar diri siswa,
seperti:
1)
Guru
Sebagai Pembina Siswa Belajar
Guru
adalah pengajar yang mendidik . Ia tidak hanya mengajar bidang studi yang
sesuai dengan keahliannya, tetapi juga menjadi pendidik pemuda generasi
bangsanya. Guru yang mengajar siswa adalah seorang pribadi yang tumbuh menjadi
penyandang profesi bidang studi tertentu. Sebagai seorang pribadi ia juga
mengembangkan diri menjadi pribadi utuh. Sebagai seorang diri yang
mengembangkan keutuhan pribadi, ia juga menghadapi masalah pengembangan diri,
pemenuhan kebutuhan hidup sebagai manusia.
2)
Prasarana Dan Sarana Pelajaran
Prasarana
meliputi gedung sekolah, ruang belajar, lapangan olahraga, ruang Ibadah dan
ruang kesenian. Sedangkan sarana pembelajaran meliputi buku pelajaran,
fasilitas laboratorium dan berbagai media pembelajaran.
Lengkapnya
sarana dan prasarana pembelajaran merupakan kondisi pembelajaran yang baik. Hal
ini tidak berarti bahwa lengkapnya sarana dan prasarana menentukan jaminan
melakukan proses pembelajaran yang baik. Justru disinilah muncul bagaimana
mengolah sarana dan prasaranapembelajaran sehingga tersenggara proses belajar
yang berhasil dengan baik.
3)
Kebijakan Penilaian
Hasil
belajar merupakan hasil proses belajar, pelaku aktif dalam belajar adalah
siswa. Hasil belajar juga merupakan hasil proses pembelajaran, pelaku aktif
dalam pembelajaran adalah guru.
4)
Lingkungan Sosial Siswa Di Sekolah.
Tiap siswa berada di dalam
lingkungan social siswa di sekolah, ia memiliki kedudukan dan peranan yang
diakui oleh sesame. Jika seorang siswa, diterima, maka ia dengan mudah
menyesuaikan diri dan segera dapat belajar. Sebaliknya jika ia ditolak, maka ia
akan merasa tertekan.
5)
Kurikulum Sekolah
Kurikulum
yang diberlakukan di sekolah adalah kurikulum nasional yang disahkan oleh
pemerintah, atau yayasan pendidikan. Kurikulum disusun berdasarkan tuntutan
kemajuan masyrakat. Dengan kemajuan dan perkembangan masyrakat timbul tuntutan
kebutuhan baru dan akibatnya kurikulum sekolah perlu direkonstruksi. Adanya
rekonstruksi itu menimbulkan kurikulum baru. Perubahan kurikulum sekolah
menimbulkan masalah seperti tujuan yang akan dicapai mungkin akan berubah, isi
pendidikan berubah, kegiatan belajar mengajar berubah serta evaluasi berubah.
Contoh dari masalah belajar
eksternal dapat dilihat dari kasus berikut:
Talia
seorang gadis cilik duduk di kelas III SD. Ia termasuk salah seoprang dari
sejulah anak di kelasnya yang belum dapat membaca dengan lancar. Setiap
pelajaran membaca, ia menjadi ketakutan karena setiap membuka mulut, ia
ditertawakan oleh teman-temannya. Gurunya hanya membiarkan saja dan mengalihkan
giliran kepada murid lain. Akibatnya, Talia selalu ketinggalan dari
teman-temannya. Di rumah, Talia selalu dimarahi karena dalam membaca ia
dikalahkan Doli adiknya yang duduk di kelas II. Pada kasus ini tampaknya lebih
banyak menekankan pada pengaruh lingkungan, ketinggalan Talia dalam membaca
tampaknya lebih banyak disebabkan oleh “rasa takut” dan tertekan yang
ditimbulkan oleh sikap lingkungan yang tidak mendorong Talia untuk belajar.
Dengan
pemahaman di atas maka dapat dikemukakan bahwa masalah-masalah belajar internal
dapat bersifat : Sosial dan Non Sosial
1.
Faktor
Sosial
Faktor sosial dibagi menjadi beberapa lingkungan, yaitu:
a.Lingkungan
keluarga, yaitu:
1)
Orang tua
Dalam
kegiatan belajar, seorang anak perlu diberi dorongan dan pengertian dari orang
tua. Apabila anak sedang belajar, anak jangan diganggu dengan tugas rumah.
Orang tua berkewajiban memberi pengertian dan dorongan serta semaksimal mungkin
membantu dalam memecahkan masalah-masalah yang dihadapi anak di sekolah.
Didikan orang tua yang kurang baik akan berpengaruh tidak baik pula terhadap
kondisi anak dalam kegiatan belajar.
2)
Suasana rumah
Hubungan
antar anggota keluarga yang kurang harmonis akan menimbulakan suasana kaku dan
tegang dalam berkeluarga yang menyebabkan anak kurang bersemangat untuk
belajar. Sedangkan suasana rumah yang akrab, menyenangkan dan penuh kasih
sayang, akan memberikan dorongan belajar yang kuat bagi anak.
3)
Kemampuan ekonomi keluarga
Hasil
belajar yang baik, tidak dapat diperoleh hanya dengan mengandalkan
keterangan-keterangan yang diberikan oleh guru di depan kelas, tetapi juga
alat-alat belajar yang memadai, seperti buku, pensil, pena, peta, bahkan buku
bacaan. Sedangkan sebagian besar, alat-alat pelajaran harus disediakan sendiri
oleh murid yang bersangkutan. Bagi orang tua yang keadaan ekonominya kurang
memadai, sudah barang tentu tidak dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan anaknya
itu secara maksimal. Maka murid akan menanggung resiko yang tidak diharapkan.
4)
Latar Belakang Kebudayaan
Tingkat
pendidikan dan kebiasaan dalam keluarga, akan mempengaruhi sikap anak dalam
belajar. Jadi, anak-anak hendaknya ditanamkan kebiasaan yang baik agar
mendorong anak untuk belajar.
b.
Lingkungan Guru, yaitu:
1)
Interaksi guru dan murid
Guru
yang kurang berinteraksi dengan murid secara rutin akan menyebabkan proses
belajar menjadi kurang lancar, dan menyebabkan anak didik merasa ada distansi
(jarak) dengan guru, sehingga segan untuk berpartisipai aktif dalam kegiatan
belajar mengajar.
2)
Hubungan antar murid
Guru
yang kurang bisa mendekati siswa dan kurang bijaksana, maka tidak akna
mengetahui bahwa di dalam kelas ada grup yang saling bersaing secara tidak
sehat. Suasana kelas semacam ini sangat tidak diharapkan dalam proses belajar.
Untuk itu maka, guru harus mampu membina jiwa kelas supaya dapat hidup
bergotong-royong dalam belajar bersama, hal ini dimaksudkan agar kondisi
individual siswa berlangsung dengan baik.
3)
Cara penyajian bahan pelajaran
Guru
yang hanya bisa mengajar dengan metode ceramah saja, membuat siswa menjadi
bosan, mengantuk, pasif, dan hanya mencatat saja. Guru yang progresif, adalah
guru yang mencoba metode-metode baru, yang dapat membantu dalam meningkatkan
kondisi belajar siswa.
c.
Lingkungan Masyarakat, yaitu:
1)
Teman Bergaul
Pergaulan
dan teman sepermainan sangat dibutuhkan dalam dan membentuk kepribadian dan
sosialisasi anak. Orang tua harus memperhatikan agar anak-anaknya jangan sampai
mendapat teman bergaul yang memiliki tingkah laku yang tidak diharapkan. Karena
prilaku yang tidak baik, akan mudah sekali menular kepada anak lain.
2)
Pola Hidup Lingkungan
Pola
hidup tetangga yang berada di sekitar rumah di mana anak itu berada, punya
pengaruh besar terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak. Jika anak berada di
kondisi masyarakat kumuh yang serba kekurangan, dan anak-anak pengangguran
misalnya, akan sangat mempengaruhi kondisi belajar anak, karena ia akan
mengalami kesulitan ketika memerlukan teman belajar atau berdiskusi atau
meminjam alat-alat belajar.
3)
Kegiatan dalam masyarakat
Kegiatan
dalam masyarakat dapat berupa karang taruna, menari, olah raga, dan lain
sebagainya. Bila kegiatan tersebut dilakukan secara berlebihan, tentu akan
menghambat kegiatan belajar. Jadi, orang tua perlu memperhatikan kegiatan
anak-anaknya.
4)
Mass Media
Mass
media adalah sebagai salah satu faktor penghambat dalam belajar. Misalnya,
bioskop, radio, video-kaset, novel, majalah, dan lain-lain. Banyak anak yang
terlalu lama menonton TV, membaca novel, majalah yang tidak dibertanggung
jawabkan dari segi pendidikan. Sehingga, mereka akan lupa akan tugas
belajarnya. Maka dari itu, buku bacaan, video-kaset, majalah, dan mass media
lainnya perlu diadakan pengawasan yang ketat dan diseleksi dengan teliti.
2.
Faktor
Non-sosial
Sarana dan prasarana sekolah, adalah sebagai berikut:
1)
Kurikulum
Program
pembelajaran di sekolah mendasarkan diri pada suatu kurikulum. Kurikulum yang
diberlakukan sekolah adalah kurikulum nasional yang disahkan oleh pemerintah,
atau suatu kurikulum yang disahkan oleh suatu yayasan pendidikan. Kurikulum
sekolah tersebut berisi tujuan pendidikan, isi pendidikan, kegiatan
belajar-mengajar, dan evaluasi. Berdasarkan kurikulum tersebut guru menyusun
desain instruksional untuk membelajarkan siswa. Sistem intruksional sekarang
menghendaki, bahwa dalam proses belajar mengajar yang dipentingkan adalah
kebutuhan anak. Maka guru perlu mendalami dengan baik dan harus mempunyai
perencanaan yang mendetail, agar dapat melayani anak belajar secara individual.
Kurikulum
pada dasarnya disusun berdasarkan tuntutan zaman dan kemajuan masyarakat yang
didasarkan suatu rencana pembangunan lima tahunan yang diberlakukan pemerintah.
Dengan kemajuan dan perkembangan masyarakat, timbul tuntunan kebutuhan baru, akibatnya
kurikulum perlu dikonstruksi yang menimbulkan lahirnya kurikulum baru.
Perubahan
kurikulum sekolah menimbulkan masalah. Masalah-masalah itu adalah:
a. Tujuan
yang akan dicapai mungkin berubah, bila tujuan berubah maka pokok bahasan,
kegiatan belajar mengajar, dan evaluasi akan berubah. Sekurang-kurangnya,
kegiatan belajar mangajar perlu diubah,
b. Isi
pendidikan berubah; akibatnya buku-buku pelajaran dan buku bacaan serta sumber
yang lain akan berubah. Hal ini menimbulkan anggaran pendidikan disemua
tingkat,
c.
Kegiatan belajar mengajar berubah, akibatnya guru harus mempelajari strategi,
metode, teknik, dan pendekatan mengajar yang baru. Bila pendekatan belajar
berubah, maka kebiasaan siswa akan mengalami perubahan, dan
d.
Evaluasi berubah; akibatnya guru akan mempelajari metode dan teknik evaluasi
belajar yang baru. Bila evaluasi berubah, maka siswa akan mempelajari cara-cara
belajar yang sesuai dengan ukuran lulusan yang baru.
Perubahan
kurikulum dapat menimbulkan masalah bagi guru, siswa, petugas pendidik serta
orang tua siswa. Bagi guru, ia perlu mengadakan perubahan pembelajaran. Dalam
hal ini guru harus menghindarkan diri dari cara-cara belajar ”lama”. Bagi
Siswa, ia perlu mempelajari cara-cara belajar, buku pelajaran, dan sumber belajar
yang baru dengan cara siswa harus menghindarkan diri dari cara-cara belajar
”lama”. Bagi petugas pendidik, ia juga perlu mempelajari tata kerja pada
kurikulum “baru”, dan menghindarkan diri dari tata kerja pada kurikulum ”lama”.
Bagi Orang Tua siswa, ia perlu mempelajari maksud, tata kerja, peran guru, dan
peran siswa dalam belajr pada kurikulum “baru” serta memahami adanya metode dan
teknik belajar “baru” bagi anak-anaknya maka ia dapat membantu proses belajar
anaknya secara baik.
2)
Media pendidikan
Media
pendidikan dapat berupa buku-buku di perpustakaan, laboratorium, LCD, komputer
dan lain sebagainya. Pada umumnya, sekolah masih kurang memiliki media
tersebut, baik dalam jumlah maupun kualitas. Lengkapnya media pendidikan
merupakan kondisi belajar yang baik. Hal itu tidak berarti bahwa lengkapnya
media pendidikan menentukan jaminan terselenggaranya proses belajar yang baik.
Justru disinilah timbul masalah “bagaimana mengelola media pendidikan sehingga
terselenggara proses belajar yang berhasil baik.”
Media
pendidikan dalam proses belajar adalah barang mahal. Barang-barang tersebut
dibeli dengan uang pemerintah dan uang masyarakat. Maksud pembelian tersebut
adalah untuk mempermudah siswa belajar. Dengan tersedianya media pendidikan
berarti menuntut guru dan siswa dalam menggunakannya.
Peranan
guru adalah sebagai berikut:
1.
Untuk
memelihara, mengatur media untuk menciptakan suasana belajar yang
menggembirakan,
2.
Untuk
memelihara dan mengatur sasaran pembelajaran yang berorientasi pada
keberhasilan siswa belajar, dan
3.
Untuk
mengorganisasi belajar siswa sesuai dengan prasarana dan sarana secara tepat
guna.
Peranan
siswa sebagai berikut:
1.
Untuk
ikut serta dan berperan aktif dalam pemanfaatan media pendidikan secara baik,
2.
Untuk
ikut serta dan berperan aktif dalam pemanfaatan media pendidikan secara tepat
guna,
3.
Untuk
menghormati sekolah sebagai pusat pembelajaran dalam rangka pencerdasan
kehidupan generasi muda bangsa.
3)
Keadaan gedung
Dengan
banyaknya jumlah siswa yang membeludak, keadaan gedung dewasa ini masih sangat
kurang. Mereka harus duduk berjejal-jejal di dalam kelas. Faktor ini tentu
menghambat lancarnya kondisi belajar siswa. Keadaan gedung yang tua dan tidak
direnovasi, serta kenyamanan dan kebersihan di dalam kelas yang masih kurang.
Hal itu, dapat menimbulkan ketidak nyamanan siswa dalam belajar. Sehingga
kegiatan belajar mengajar tidak dapat berjalan dengan baik.
4)
Sarana Belajar
Sarana
belajar di sekolah, juga akan mempengaruhi kondisi belajar siswa. Perpustakaan
yang tidak lengkap, papan tulis yang sudah buram, laboratorium yang darurat
atau tidak lengkap, tempat praktikum yang tidak memenuhi syarat, tentu akan
mempengaruhi kualitas belajar, dan pada akhirnya akan mempengaruhi hasil
belajar siswa. Adakalanya juga, sarana yang sudah begitu lengkap tidak disertai
dengan sistem pelayanan yang ramah. Contohnya, pegawai perpustakaan yang
cenderung tidak ramah, dan tidak membantu, peraturan-peraturan yang tidak
memberikan layanan yang jelas terhadap pemakai sarana, sikap arogan petugas
menganggap bahwa pusat-pusat layanan itu adalah miliknya karena ia mempunyai
otoritas.
5)
Waktu belajar
Karena
keterbatasan gedung sekolah, sedangkan jumlah siswa banyak, maka ada siswa yang
harus terpaksa sekolah di siang hingga sore hari. Waktu di mana anak-anak harus
beristirahat, tetapi harus masuk sekolah. Mereka mendengarkan pelajaran sambil
mengantuk. Berbeda dengan anak yang belajar di pagi hari. Sebab, pikiran mereka
masih segar, dan jasmani dalam kondisi baik. Karena belajar di pagi hari, lebih
efektif daripada belajar pada waktu lainnya. Oleh karena itu alangkah baiknya
kegiatan belajar di sekolah dilaksanakan pada pagi hari.
6)
Rumah
Kondisi
rumah yang sempit dan berantakan serta perkampungan yang terlalu padat dan
tidak memiliki sarana umum untuk anak, akan mendorong siswa untuk berkeliaran
ke tempat-tempat yang sebenarnya tidak pantas dikunjungi. Kondisi rumah dan
perkampungan seperti ini jelas berpengaruh buruk terhadap kegiatan belajar
siswa.
7)
Alam
Hal
ini dapat berupa keadaan cuaca yag tidak mendukung anak untuk melangsungkan
proses belajar mengajar. Kalaupun berlangsung, tentu kondisi belajar siswa akan
kurang optimal.
D. Cara
Mendiagnosa Masalah Belajar dan Mengatasinya
Yang dimaksud dengan proses
mendiagnosis adalah proses pemeriksaan terhadap suatu gejala yang tidak beres.
Diagnosis masalah belajar dilakukan jika guru menandai atau mengidentifikasi
adanya kesulitan belajar pada muridnya.
Diagnosis masalah belajar dilakukan
secara sistematis dan terarah dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Mengidentifikasi adanya masalah belajar
Untuk
mengidentifikasi masalah belajar diperlukan seperangkat keterampilan khusus,
sebab kemampuan mengidentifikasi yang berdasarkan naluri belakang kurang
efektif. Gejala-gejala munculnya masalah belajar dapat diamati dalam berbagai
bentuk, biasanya muncul dalam bentuk perubahan perilaku yang menyimpang atau
dalam menurunnya hasil belajar. Perilaku yang menyimpang juga muncul dalam
berbagi bentuk seperti: suka mengganggu teman, merusak alat-alat pembelajaran
dan lain sebagainya.
2. Menelaah atau menetapkan status siswa
Penelaahan dan penetapan status
murid dilakukan dengan cara:
1) Menetapkan tujuan khusus yang
diharapkan dari murid
2) Menetapkan tingkat ketercapaian tujuan khusus oleh murid
dengan menggunakan teknik dan alat yang tepat.
3) Menetapkan pola pencapaian murid, yaitu seberapa jauh ia
berbeda dari tujuan yang ditetapkan itu.
3. Memperkirakan sebab terjadinya masalah belajar
Membuat
perkiraan yang tepat adalah suatu perbuatan yang kompleks yang keberhasilannya
sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Beberapa prinsip yang harus diingat
dalam memperkirakan sebab terjadinya masalah belajar:
1) Gejala yang sama dapat ditimbulkan oleh sebab yang
berbeda
2) Sebab yang sama dapat menimbulkan gejala yang berbeda
3) Berbagai penyebab dapat berinteraksi yang dapat
menimbulkan gejala masalah yang makin kompleks.
Analisis kasus
Seorang ibu datang kepada seorang
psikolog untuk berkonsultasi tentang apa yang dialami oleh anaknya. Anak ibu
tersebut yang berumur delapan tahun dan masih di kelas 1 SD karena tahun
kemarin tidak naik kelas. Tahun ini, si ibu merasa kuatir anaknya tidak naik kelas
lagi karena nilainya pas-pasan. Padahal, standar nilai sekarang kan tinggi.
Pernah si ibu mendaftarkan anaknya untuk mengikuti tes intelejensi dan hasil
IQ-nya 85.
Ayahnya sangat keras dan mengancam
tidak akan menyekolahkan anaknya kalau sampai tidak naik kelas lagi. Sepintas,
si anak bisa komunikasi dengan baik dan tidak terlihat bodoh. Namun, kalau
materi terlalu banyak tidak bisa mengikuti. Si ibu merasa kebingungan. Dan
bertanya kepada psikolog : Apa yang harus ibu lakukan ? Apa anak saya mengalami
kelainan? Bagaimana solusi terbaik?
dari hasil IQ, putra ibu memang
termasuk di bawah rata-rata. Kemungkinannya, anak mengalami kelambatan belajar.
Namun, bukan karena dia tidak mau tetapi terbatas pada kemampuannya. Misalnya
ibu sudah menyuruhnya belajar dan anak sudah melakukannya dengan waktu cukup
lama dan berusaha maksimal.
Tetapi, sesampai di sekolah anak
lupa atau tidak bisa mengerjakan dengan baik. Salah satu sebabnya karena
kemampuan mengingat materi pelajaran dan kapasitas kemampuan anak tidak berimbang.
Kalau memang si kecil dirasa kesulitan mengikuti pelajaran di sekolah umum, dan
tahun ini anak tidak naik kelas, ibu sepertinya harus mulai mencari sekolah
alternatif.
Seperti memilih sekolah umum yang
berkelas kecil, sekolah khusus anak slow leaner, atau home schooling. Sebelum
memutuskan mana yang dipilih sebaiknya ibu mencari informasi mengenai dua
lembaga tersebut. Dengan demikian, ibu lebih paham dan bisa memilih sekolah
yang sesuai dengan keadaan keuangan, kondisi anak, dan situasi yang memungkinkan.
Lebih baik, si ibu pikirkan bersama
suami agar keputusan yang diambil bisa jadi motivasi ibu dan bapak dalam
memaksimalkan potensi si kecil. Dan, tidak lagi menyudutkan anak dengan segala
keterbatasan yang dia miliki. Atau, menyalahkan ibu yang dianggap kurang bisa
mendidik dengan baik.
Apapun yang terjadi, ibu dan bapak
patut bersyukur, meskipun keadaan si kecil seperti saat ini namun secara fisik
dia sehat dan bisa berkomunikasi dengan baik. Anak-anak dengan kelambatan
belajar butuh ketekunan, kesabaran, dan keuletan dalam memberikan materi
pelajaran. Karena, penalaran anak kurang berkembang tetapi dengan latihan
terus-menerus, anak bisa mengejar ketertinggalannya.
Tumbuhkan terus motivasinya dan
jangan pernah memberikan sansi fisik, hal tersebut hanya membuatnya
frustasi.Ibu bisa mencari bakat dan minat anak yang mungkin menurut kita kurang
berguna, tapi anak suka dan bisa melakukannya dengan enjoy.
BAB
III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kondisi belajar adalah suatu keadaan
yang dapat mempengaruhi proses dan hasil belajar. Gagne membagi kondisi belajar
atas dua, yaitu: (1) Kondisi internal (internal condition) adalah kemampuan
yang telah ada pada diri individu sebelum ia mempelajari sesuatu yang baru yang
dihasilkan oleh seperangkat proses transformasi. (2) Kondisi Eksternal
(eksternal condition) adalah situasi perangsang di luar diri si belajar.
Kondisi belajar yang diperlukan untuk belajar berbeda-beda untuk setiap kasus.
Masalah belajar adalah suatu kondisi
tertentu yang dialami oleh siswa dan menghambat kelancaran proses belajar, bisa
berkenaan dengan keadaan diri siswa itu sendiri ataupun berkenaan dengan
lingkungan yang tidak menguntungkan. Secara umum kondisi belajar internal dan
eksternal akan mempengaruhi belajar. Kondisi itu antara lain, pertama,
lingkungan fisik. Lingkungan fisik yang ada dalam proses dan di sekitar proses
pembelajaran memberi pengaruh bagi proses belajar. Kedua, suasana emosional
siswa. Suasana emosional siswa akan memberi pengaruh dalam proses pembelajaran
siswa. Hal ini bisa dicermati ketika kondisi emosional siswa sedang labil maka
proses belajarpun akan mengalami gangguan. Ketiga, lingkungan sosial.
Lingkungan sosial yang berada di sekitar siswa juga turut mempengaruhi
bagaimana seorang siswa belajar.
Diagnosis masalah belajar dilakukan
secara sistematis dan terarah dengan langkah langkah sebagai berikut:
1. Mengidentifikasi adanya masalah belajar
2. Menelaah atau menetapkan status siswa
3. Memperkirakan sebab terjadinya masalah belajar
B. Saran
Kesulitan siswa dalam belajar
merupakan suatu hal yang sering ditemui oleh para pendidik, terutama guru.
Sebagai upaya untuk memberikan terapi terhadap permasalahan kesulitan belajar
maka dapat ditempuh melalui berbagai media penanganan yang khusus intensif
serta terpadu antara pendidik, siswa dan orang tua di rumah. Karena walau
bagaimanapun juga sebagian waktu anak lebih banyak dihabiskan di rumah dari
pada di sekolah di bawah pengawasan orang tua.
Dalam hal ini pendidik dalam hal ini
guru di sekolah dan orang tua di rumah dituntut untuk benar-benar mengerti akan
tipe atau jenis masalah yang dihadapi oleh siswa atau anak. Dengan memahami
jenis masalah, diharapkan pendidik mempu memberikan solusi penanggulangan
sesuai dengan masalah yang bersangkutan.
DAFTAR
PUSTAKA
Nirwana, Herman dkk. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Padang
: FIP UNP
Dimyati dan Mudjiono. (2006). Teori Belajar dan
Pembelajaran. Jakarta: Depdikbud berkerjasama dengan Rineka
Siregar, Eveline dan Nara, Hartini. (2007). Teori Belajar
dan Pembelajaran. Jakarta: Universitas Negeri Jakarta